FGD Evaluasi PelaKsanaan Program TFCA Kalimantan

FGD Evaluasi PelaKsanaan Program TFCA Kalimantan

FGD Evaluasi PelaKsanaan Program TFCA Kalimantan

02-07-2019/TFCA Kalimantan/FGD,TFCAK,KALIMANTAN,DISKUSI,EVALUASI,PROGRAM TFCA

(TFCAK/2019): TFCA Kalimantan adakan Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Pelaksanaan program TFCA Kalimantan tahun 2019. Rangkaian pelaksanaan kegiatan evaluasi tersebut berlangsung di dua tempat yaitu; di Hotel Santika, Pontianak Kalbar, dan di hotel Swiss-bell, Balikpapan Kaltim. Sebelumnya juga, diadakan kick off meeting di Bogor, sesuai dengan undangan direktur PJLHK, terkait pembahasan pelaksanaan evaluasi program TFCAK.

Evaluasi ini dilaksanakan berdasarkan SK Dirjen No 178/2019 dan Surat Tugas Dirjen KSDAE No. 84/2019, untuk menilai efektifitas dan efisiensi serta manfaat program TFCA Kalimantan; serta memperhatikan bahwa sesuai dengan perjanjian TFCA Kalimantan, pemerintah Indonesia telah melaksanakan kewajiban membayar utang sesuai jadwal dan akan berakhir pada September 2019.

FGD dibuka oleh tim evaluasi (Ibu Jule) yang berlangsung selama 4 hari (23-26 Juni 2019) dan dihadiri oleh Admin dan fasilitator, OCTM, tim evaluasi, wakil WWF dan TNC, Disbudpar Berau, BKSDA Kaltim, Balai TN Kutai, Balai Gakkum, KPH Batu Ayau, Baplitbang Berau , Dinas LH Prov Kaltim, Bappeda Prov Kaltim, serta para mitra.

Tim Evaluasi menyampaikan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan evaluasi dengan harapan dapat diperoleh informasi pada FGD tersebut, kemudian dilanjutkan presentasi direktur program TFCA Kalimantan, tentang status hibah TFCA Kalimantan saat ini.

Pada kesempatan tersebut, mitra TFCA Kalimantan secara umum menyampaikan laporan-nya yang meliputi; proses pelaksanaan, capaian kegiatan, serta tantangan di lapangan oleh ALERT, RASI, KANOPY-Lamin Segawi, JALA, Bikal, Perangat Timbatu, Fakultas Geografis UGM, MENAPAK dan OWT. 

Dalam diskusi, anggota tim evaluasi dan wakil pemda memberikan tanggapan dan saran bagi pelaksanaan TFCA Kalimnatan lebih lanjut.  Beberapa catatan yang menjadi perhatian diantaranya :

a.       Kawasan konservasi masih dianggap sebagai penghambat pembangunan, karena pemda tidak dapat melakukan pengembangan fisik pariwsata

b.     Kawasan ekosistem mangrove menjadi perhatian dan sepakat perlunya komitmen konservasi semua pihak yang merupakan lokasi kegiatan beberapa mitra disepanjang pesisir timur Berau,

c.     Kaltim memiliki ekosistem karst yang tertua  (Merabu), belum terwujud komitmen penuh dalam melindungi Karst Sangkulirang – Mangkalihat.

d.    Integrasi TFCAK dengan FCPF perlu ditingkatkan,

e.     Diperlukan exit strategy yang lebih konkrit, agar kegiatan program 54 mitra berlanjut dan memberikan manfaat dan menjadi bahan pembelajaran. 

f.      Pelaksanaan program TFCAK perlu lebih disosialisasikan dalam berbagai forum (rakor, FGD, dll),

g.    kerjasama Pemda Berau, Gubernur Kaltim dengan kepulauan Seychelle, masih terbatas pada pengembangan wisata bahari, belum terintegrasi dengan wisata di daratan Berau

h.    Perlu memperhatikan peraturan formal dan konsultasi dengan instansi berwenang (Baperda), terkait pemungutan karcis untuk wisata agar tidak menjadi kegiatan illegal

i.      Upaya konservasi yang dibarengi kegiatan pengembangan ekonomi masyarakat memerlukan strategi dan dukungan ilmiah, sehingga investasinya rasional dan berkelanjutan

j.      Kasus peredaran illegal tumbuhan dan satwa liar, Gakkum lebih melaksanakan tugasnya dalam penindakan, juga sering memediasi proses konflik lahan

k.    Program TFCA Kalimantan agar juga dapat mendukung perlindungan ekosistem danau, penguatan pertanian hijau yang berkelanjutan, serta potensi ekonomi lainnya.

Selain memperoleh informasi langsung dari mitra, tim evaluasi juga menyebarkan kuesioner kepada para mitra dan wakil pemda. Diharapkan dari kuesioner tersebut yang ingin diperoleh adalah terkait dengan persepsi responden atas relevansi dan manfaat program TFCA Kalimantan, proses dan pelaksanaannya, serta kapasitas dan komitmen untuk melanjutkan program. 

(Tfcak_Informasi)