MONITORING KEBERADAAN DAN POPULASI PESUT MAHAKAM

 MONITORING KEBERADAAN DAN POPULASI PESUT MAHAKAM

MONITORING KEBERADAAN DAN POPULASI PESUT MAHAKAM

23-01-2019/TFCA Kalimantan/PESUT MAHAKAM,POPULASI PESUT MAHAKAM,Kalimantan,Ka

Penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Konservasi RASI tentang keberadaan, jumlah dan acaman terhadap populasi Pesut Mahakam serta kondisi habitatnya. Penelitian ini bagian dari 'Program Pelestarian Pesut Mahakam', yang merupakan sebuah program penelitian dan konservasi berkolaborasi juga dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Barat serta dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur.

Hasil laporan survei monitoring Pesut Mahakam yang dilakukan antara 27 Augustus dan 4 September 2018 yang merupakan survei yang pertama dalam rangkaian survei yang sedang dan akan dilakukan 4 kali dengan interval 3 bulan di tahun 2018-2019. Survei monitoring ini dilakukan dalam rangka program bekerjasama dengan TFCA Kalimantan terkait 'Perlindungan populasi Pesut Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara melalui pengelolaan kolaboratif dan pembinaan habitat' selama dua tahun.

Survei dilakukan dengan tim yang dipimpin oleh peneliti senior Danielle Kreb dan assisten-assisten: Rendra Bayu, Sigau Weldeneser, Gres Sella Br Sembiring. Tujuan monitoring populasi Pesut Mahakam yang dilakukan di sepanjang wilayah DAS Mahakam yang merupakan habitat Pesut, adalah untuk mengetahui jumlah indvidu dalam populasi, perkembangan kelahiran dan kematian dalam satu tahun. Selain itu, survei-survei juga bertujuan untuk memeriksa kualitas air di habitat Pesut Mahakam dan keberadaan Pesut di kondisi air yang berbeda serta identifikasi ancaman di dalam calon Kawasan Konservasi Perairan (KKP) di Kabupaten. Monitoring dilakukan sejak akhir Augustus 2018 dengan 3 bulan interval seterusnya.

Daerah transek survei (dari hilir ke hulu) yang dilalui di Sungai Mahakam dalam rangkaian 4 survei yang dilakukan pada kondisi air kecil adalah: Rantau Hempang hingga Melak dan termasuk anak sugai Kedang Rantau, Kedang Kepala, Belayan, Pela, Kedang Pahu, Danau Semayang dan Melintang. Total jarak tempuh adalah 552.8 km hari. Selama survei ditemukan sekelompok pesut sebanyak 9 (Sembilan) kali. Ukuran kelompok rata-rata yang dijumpai terdiri atas 12-13 individu (median= 7; min=4; max=28). Dari analisa foto pada sirip punggung dapat mengidentifikasi 49 individu yang berbeda. Ditemukan 4 bayi dengan usia diperkirakan antara 1 (Satu) sampai dengan 3 bulan. Sementara ada 2 bayi lain dengan usia antar 4-8.5 bulan.

Bedasarkan wawancara yang diadakan pada setiap survei sejak 1999 diketahui bahwa rata-rata setiap tahun 4 ekor mati dimana 67% disebabkan oleh rengge nelayan. Namun pada tahun 2018 kematian Pesut dari Januari hingga 10 Oktober sudah mencapai 9 ekor. Sayangnya sebab hanya diketahui dalam 2 kasus yaitu rengge dan di dalam 5 kasus lain duduga kuat kena dampak aktivitas orang meracuni sungai untuk mencari ikan (menggunakan herbisida dan pestisida) karena beriringan dengan kematian ikan baung putih dalam jumlah besar. Pada survei kualitas air di air yang besar, hasil dari uji kualitas air menunjukan bahwa beberapa (anak) sungai memiliki konsentrat tinggi dari logam berat yang sangat berbahaya untuk kesehatan masyarakat maupun Pesut seperti Cd (kadmium) dan Pb (timbal) yang melampui baku mutu hingga 23 kali dan merupakan kasus yang terparah.

Namun pada saat survei di bulan Augustus walau masih terlihat ikan mati hanyut di sungai (sepekan sebelum survei dilaporkan lebih banyak ikan mati), tidak terdeteksi adanya polusi signifikan kecuali bagian hulu sungai Kedang Pahu dimana TSS sangat tinggi dan kejernihan air sangat rendah. Pada saat survei juga terlihat adanya indikasi pelanggaran AMDAL dari perusahaan Tambang yang lewat sungai Kedang Kepala dengan kapal ponton berukuran 300 feet sementara untuk air kecil semestinya 180 feet. Juga ponton tanpa jedah waktu keluar masuk padahal semestinya adanya jedah waktu 30 menit antara ponton.

Pada keadaan malam kapal ponton juga keluar masuk sehingga kondisi seperti ini sangat menbahayakan pesut karena pesut tidak dapat mengandalkan sonar karea kebsingan di bawah air di atas 100dB menyebabkan tidak terdengar pantululan dari sonar sehingga mereka tidak dapat memperkirakan jarak antara mereka dan ponton. Sebagai ancaman lain yang tim survey sering melihat adanya penyetroman di siang hari dan kebanyakan pelaku menggunakan genset.

Adajuga alat penyangga yang dipasang didepan perahu yang dialirkan listrik juga sehingga mendapatkan banyak ikan kecil (kendia), yang merupakan mangsa Pesut.


Sumber: Laporan Survei monitoring YK-RASI