Jakarta,

Pemaparan TFCA oleh Mr. Scott Lampman.

Dalam rangka kunjungan kerja, Mr. Scott Lampman sebagai Direktur Sekretariat TFCA-USAID yang berkedudukan di Washington, D.C,  datang ke Indonesia. Indonesia merupakan salah satu bagian dari 14 negara (Banglades, El Salvador, Belize, Philippines, Peru, Panama, Jamaica, Colombia, Botswana, Guatemala, Paraguay, Costa Rica, Brazil) yang masuk kedalam Enterprise Amerika Insiatif (EAI) dan Tropical Forest Conservation Act (TFCA). Indonesia masuk kedalam Program TFCA sejak tahun 2011. Program ini terdiri dari 3 program yang berbeda, program pertama merupakan perjanjian dalam bentuk TFCA 1 atau yang dikenal dengan TFCA Sumatera, kemudian TFCA 2 yang dikenal dengan TFCA Kalimantan, serta TFCA 3 yang merupakan perpanjangan program TFCA Sumatera yang fokus pada penyelamatan spesies di Sumatera.

Mr. Scott Lampman menjelaskan bagaiman gambaran TFCA secara gelobal di kantor Yayasan KEHATI.

Kunjungan direktur sekretariat Washington ini diawali dengan presentasi bagaimana TFCA secara global di kantor Yayasan KEHATI pada tanggal 17 Maret 2017. Pada kesempatan tersebut, Mr. Scott Lampman menjelaskan secara umum total komitmen untuk program TFCA yang ada di Indonesia sudah mencapai 72.9 juta US dollar. Total komitmen ini merupakan komitmen paling besar diantara 13 negara lainnya. Jika dibandingkan, komitmen untuk Indonesia yang mencapai 600,000 US dollar / tahun jauh lebih besar dari pada komitmen negara Brazil yang mencapai 220,000 US dollar / tahun. Sampai saat ini, Indonesia khususnya TFCA Kalimantan telah menyalurkan hibah kepada 38 lembaga dengan total hibah lebih dari 10 juta US dollar.

Kapus Hulu dan Berau,

Kunjungan Lokasi Kerja Mitra TFCA Kalimantan.

Setelah pemaparan program TFCA secara global di kantor KEHATI, Mr. Scott Lampman didampingi oleh Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Bapak M.S. Sembiring, dan Direktur TFCA Kalimantan Ibu Puspa Dewi Liman beserta administratur, melakukan kunjungan ke lokasi proyek TFCA kalimantan di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Berau. Dalam kesempatan itu juga, dilakukan acara penyerahan perjanjian kerjasama kepada mitra siklus 3 yang ada di Berau.

Kunjungan pertama menuju ke Kabupaten Kapuas Hulu pada tanggal 21- 24 Maret 2017, dengan mengunjungi lokasi kerja mitra FDLL,  Kompakh, Lanting Borneo, Forina, ASPPUK, Dian Tama, serta AOI. Kunjungan ini melihat bagaimana restorasi yang dilakukan di pinggiran Sungai Labian Leboyan oleh FDLL, serta melihat bagaimana kearifan lokal yang dikemas kedalam ekowisata yang ada di Dusun Melemba  sebagai dusun dampingan  Kompakh. Selanjutnya dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi penanaman di zona penyangga koridor Danau Sentarum oleh  Lanting Borneo di Dusun Sungai Pelaik. Terakhir melihat bagaimana masyarakat mengolah tanaman pewarna alam di Dusun Kelayam, masyarakat dampingan ASPPUK, serta melakukan penanaman di Dusun Ganti Desa Sungai Ajung  dampingan Dian Tama.

Penanaman tanaman kopi bersama masyarakat Dusun Sungai Pelaik Desa Melemba, dampingan Lanting Borneo.

Kunjungan dilanjutkan ke lokasi kerja mitra Kerima puri, FLIM, JALA, Kanopi, OWT, Kart UGM, dan Menapak di Kabupaten Berau pada tanggal 25 – 28 Maret 2017. Dalam kunjungan ini, terdapat kegiatan adopsi pohon yang difasilitasi oleh Kerima Puri di Hutan Merabu. Selanjutnya kunjungan ke danau Nyandeng yang merupakan salah satu lokasi kerja Karst UGM dalam meneliti Karst di Berau. Selain itu, kunjungan ke Hutan lindung Sungai Lesan dan diskusi bersama kelompok tani Makmur Jaya dampingan OWT. Terakhir, mengunjungi daerah Batu-batu yang merupakan lokasi kerja JALA, Kanopi, dan FLIM, untuk melihat penanaman mangrove beserta produk hasil mangrove. Dan tidak lupa melakukan pengamatan Bengkatan.

Mr. Scott Lampman dan Direktur Eksekutif Yayasan Kehati Bapak M.S. Sembiring, mengadopsi pohon Meranti di Hutan Merabu yang merupakan lokasi kerja mitra Kerima Puri.

Selain kunjungan ke lokasi kerja mitra, juga dilakukan pertemuan untuk koordinasi dengan Pemerintahan Daerah Kabupaten Berau. Pada kesempatan itu juga, sekaligus penyerahan perjanjian kerja sama kepada mitra siklus 3 (YAKOBI, Penyu Berau, KaKaBe, JKPP). Pada pertemuan ini Wakil Bupati Berau Bapak Agus Tantomo berserta jajarannya, mendukung program TFCA yang dilakukan di Kabupaten Berau, beliau juga mengatakan jika program TFCA kedepan agar dapat mendorong pariwisata di Kabupaten Berau, serta mendukung  program yang terkait dengan energi terbarukan.

Link berita pertemuan Pemda Kab. Berau

Penyerahan perjanjian kerjasama oleh Direktur Eksekuti Yayasan KEHATI  Bapak M.S. Sembiring kepada mitra siklus tiga yang disaksikan oleh Wakil Bupati Kabupaten Berau Bapak Agus Tantomo, Mr. Scott Lampman, dan Direktur TFCA Kalimantan Ibu Puspa Dewi Liman.

Rekomendasi dan Tindak Lanjut

Setelah melakukan kunjungan ke lokasi kerja mitra TFCA Kalimantan, Mr. Scott Lampman membagi pengalamannya kepada manajemen beserta staff KEHATI. Ia menceritakan bagaimana pengalaman yang ia dapat di lapangan seperti pengetahuan mengenai hutan adat, hutan desa, perkebunan (perhutanan sosial), taman nasional dan area lindung lain. Selain itu, ia juga menjelaskan bagaimana teori perubahan sosial dalam sebuah proyek bisa diterapkan oleh sebuah lembaga konservasi. Ia juga menjelaskan bagaimana sebuah proyek madu yang berkaitan dengan pencegahan sebuah kebakaran, merupakan bagian dari sebuah kegiatan konservasi. Serta bagaimana sampah plastik yang diolah menjadi barang yang berguna, yang berpengaruh terhadap konservasi hutan, melalui alternatif pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada hasil hutan.

Foto bersama perwakilan dari U.S embassy, Pembina dan Manajeman Yayasan KEHATI setelah pemaparan pengalaman (Out briefing) Mr. Scott Lampman mengunjungi lokasi kerja mitra TFCA di Indonesia.

Dan tidak lupa ia menjelaskan bagimana tantangan kedepan program TFCA yang ada di Indonesia khususnya TFCA Kalimantan. Tantangan tersebut berupa pengembangan rencana strategis dalam penggalangan dana serta pengembangan rencana startegi komunikasi untuk menjadikan organisasi lebih besar, dan  bagaimana meningkatkan peran serta keterlibatan mitra dalam program TFCA. Selain itu, terdapat beberapa masukan terkait program yang dapat telah dan akan dilakukan, antara lain agar mitra TFCA Kalimantan mengatur strategi agar mendapat dukungan dari donor lain jika proyek yang dilakukan hampir berakhir. Fase akhir dari proyek haruslah diidentifikafasi, identifikasi ini bisa seperti audiensi ke pemangku kepentingan agar kegiatan yang ada mendapatkan pembiayaan dari Pemerintahan Daerah melalui DPR. Kedepannya proyek harus mempertimbangkan baik dari sisi ekonomi maupun konservasi keanekaragaman hayati, serta proyek konservasi yang perlu dikaitkan dengan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan dan ekonomi, serta adanya desain program yang sejalan dengan program pemerintah


Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dewan Pengawas    

klhksm  usaid  logo-nature-notagline   wwf