LOKAKARYA SOSIALISASI

PERENCANAAN KONSERVASI BADAK DI KALIMANTAN TIMUR

 

Foto: Mongabay

Samarinda, 14 Maret 2017

Keberadaan Badak di Kalimantan.

Penemuan tanda keberadaan badak di Kutai Barat di awal tahun 2013 menjadi sebuah momentum penting bagi dunia konservasi badak, khususnya bagi upaya konservasi jenis badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) di Kalimantan. Namun, fakta lain ditunjukkan dari hasil survei tim WWF Indonesia, bahwa populasi badak di Kutai Barat terpencar-pencar dengan populasi yang kecil dan habitat yang terisolasi oleh berbagai kegiatan penggunaan lahan, dan habitat-habitat tersebut tidak terhubung satu dengan lainnya.  Selain karena terdapat barrier alami juga kegiatan penggunaan lahan, serta infrastruktur publik dan permukiman.

Kondisi ini membutuhkan upaya khusus dalam konservasi badak di Kalimantan. Populasi  badak yang ada di Kutai Barat sangat tidak viable dan tidak bisa dipertahankan di habitatnya saat ini,  sehingga keputusannya adalah melakukan translokasi semua badak dari habitatnya. Upaya ini melibatkan banyak pihak yang secara otoritas, kepedulian dan sosiologis berhubungan, baik dengan habitat maupun badak. Dibutuhkan diskusi yang mendalam untuk memastikan bahwa kegiatan telah direncanakan secara matang, tidak ada keberatan terhadap proses dan metode yang digunakan dalam translokasi,  serta perijinan maupun administrasi guna memungkinkan kegiatan translokasi  dilaksanakan.

Sebuah Upaya Konservasi.

Kegiatan lokakarya sosialisasi dan perencanaan konservasi badak di Kalimantan, merupakan wujud keseriusan pemerintah daerah khususnya Kabupaten Kutai Barat, Mahakam Hulu, serta Provinsi Kalimantan Timur, dalam menghadapi ancaman kepunahan badak melalui serangkaian konservasi badak yang ada di Kalimantan.

Lokakarya Perencanaan Konservasi Badak yang diinisiasi oleh WWF Indonensia, melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, serta eleman terkait lainnya. Acara ini dibuka oleh Dirjen KSDAE serta sambutan Gubernur Kalimantan Timur. Pada pembukaan lokakarya, Dirjen KSDAE memaparkan isu terkait konservasi satwa liar khusunya badak, serta program gerakan penyelamatan tumbuhan dan satwa liar yang dicanangkan Presiden Jokowi Tahun 2016, akan membuat dunia melihat Indonesia sebagai concern yang besar bagi konservasi flora dan fauna. Selaras dengan itu, Gubernur Kalimantan Timur juga menyampaikan dukungan serta sinergi antara komitmen & program di pusat maupun daerah, karena pada beberapa kasus terkait keanekaragaman hayati tidak bisa ditangani secara sendiri melainkan dengan beriringan.

Dalam kesempatan ini juga, perwakilan dari Sekretariat Badak Nasional, IPB Bogor, Balitek KSDA, WWF Indonesia, serta BKSDAE Kalimantan Timur, memberikan pandangan terhadap konservasi badak. Secara umum, pemaparan terkait bagaimana status populasi badak yang harus ada prioritas, melalui serangkaian konservasi dan sanctuary badak. Selain itu, masalah kesehatan dan reproduksi badak juga dijelaskan, seperti bagaimana kasus kematian badak, merupakan salah satu permasalahan kesehatan badak, serta yang menjadi perhatian kematian badak lebih terdampak akibat stress berkepanjangan. Dan lainnya berupa pemaparan meliputi pengenalan identitas badak, konservasi dan rehablitasi badak, tantangan dan permasalahannya, serta strategi aksi konservasi badak kedepannya.

 

foto: Gubernur Awang Faroek Ishak menerima cinderamata berupa foto Badak Kalimantan dari Direktur WWF Indonesia Anwar Purwoto. *humprov-umar – (Postkaltim)

Tujuan diselenggarakan lokakarya ini, turut menginformasikan perkembangan kegiatan pelaksanaan dan perencanaan konservasi badak kedepannya, khususnya di Kalimantan Timur. Selain itu, konsultasi rencana aksi konservasi badak yang merupakan hasil lokakarya konservasi badak pada bulan September 2015 di Balikpapan, untuk mendapatkan masukan konstruktif dari para pihak. Selain itu, mendapatkan dukungan dan komitmen para pihak dalam mendukung upaya konservasi badak di Kalimantan Timur. Lokakarya ini diharapkan mendapatkan informasi yang memadai mengenai perkembangan dan rencana dari upaya konservasi badak di Kalimantan Timur. Selain itu, aspirasi dan masukan para pihak terhadap penyelenggaraan konservasi badak dan rencana translokasi untuk memastikan keberlanjutan upaya konservasi badak ke depan, dan komitmen/peran para pihak dalam upaya konservasi badak Sumatera di Kalimantan

Aksi Konservasi Badak dan Program TFCA Kalimantan.

Dalam lokakarya ini juga, skema yang diusulkan untuk kawasan penyelamatan Badak Kalimantan berupa area bekas PT. KEM dengan bentuk kawasan hutan dengan tujuan khusus, atau menjadi kawasan ekologis esensial. Selain itu, akan ada pertemuan lanjutan setelah lokakarya ini  dengan mengundang lebih banyak partisipan bertajuk ‘International Workshop’. Selain itu, program konservasi badak juga menjadi salah satu bagian penting dalam Program TFCA Kalimantan untuk perlindungan hutan tropis, secara khusus program penyelamatan Badak Kalimantan (konsorsium ALeRT dan KOMPAD).

Berita terkait:

 

klik Link 1

klik Link 2

klik Link 3

klik Link 4

 


Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dewan Pengawas    

klhksm  usaid  logo-nature-notagline   wwf