International Conference on Sustainable Mangrove Ecosystems

Bali 18 – 21 April 2017.
Mangrove,
Mangrove merupakan salah satu bagian ekosistem produktif dimana ekosistem mangrove terdapat di wilayah tropis dan sub tropis. Mangrove dapat menghasilkan kayu, non kayu serta obat-obatan dan perikanan, selain itu, terdapat jasa lingkungan yang diberikan oleh mangrove seperti perlindungan pantai, konservasi biodiversity dan bahkan penyimpan cadangan karbon. Dan mangrove juga merupakan habitat bagi sejumlah spesies penting dan bernilai ekonomi. Maka dari itu, pengelolaan mangrove yang berkelanjutan menjadi sangat penting bagi penguatan ekosistem dan pengembangan ekonomi masyarakat di sekitar jasa lingkungannya. Namun, fakta menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan ekosistem mengrove di dunia, yang disebabkan oleh lemahnya pengelolaan serta meningkatnya aktifitas ekonomi khususnya di kawasan tropis. Termasuk Indoensia yang memiliki luas mangrove sekitar 4 juta ha, dimana lebih dari separuhnya telah mengalami degrasi. Selain itu, dampak perubahan iklim juga telah mempengaruhi ekosistem mangrove.

Konfrensi Mangrove,
Memperhatikan pentingnya issu terkait pengelolaan mangrove berkelanjutan, Kementerian LHK bekerjasama dengan sejumlah pihak telah menyelenggarakan International Conference on Sustainable Mangrove Ecosystems dari tanggal 18-21 April 2017 di Bali. Tujuan Konferensi tersebut adalah untuk diskusi berbagai aspek terkait pengelolaan mangrove, kebijakan, pengaturan kelembagaana pengelolaan, penegakan hukum, keterkaitan dengan perubahan iklim, pembayaran jasa lingkungan, pengembangan penelitian untuk memperoleh pembelajaran dalam rangka mewujudkan pengelolaan mangrove yang lestari. Acara ini dihadiri oleh wakil Negara anggota ITTO, yang berasal dari pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, swasta, LSM/KSM yang melaksanakan dan memiliki pengalaman dalam kegiatan pengelolaan mangrove. Acara juga dihadiri oleh salah satu mitra penerima hibah TFCA Kalimantan (Lembaga JALA) yang melaksanakan kegiatan pengelolaan mangrove di Berau Kalimantan Timur.

Issu Pengelolaan Mangrove,
Dalam konfrensi ini, terdapat diskusi yang terbagi kedalam beberapa tema meliputi; pengembangan pengelolaan mangrove lestari; keterkaitan dengan perubahan iklim dan upaya mitigasinya; restorasi yang manrove yang terdegradasi; penguatan ekonomi masyarakat sekitar mangrove; penguatan tata kelola,penegakan hulum dan sistem monitoring dan evaluasinya; pembayaran jasa lingkungan mangrove; serta penelitian dan pendidikan bagi pengelolaan mangrove yang lestari. Dan dalam diskusi yang dilakukan terdapat beberapa catatan yang penting dan menjadi perhatian dalam pengelolaan mangrove di Indoensia.
Beberapa hal yang menjadi catatan dalam diskusi maupun presentasi terkait pengelolaan mangrove. Mangrove memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya, namun belum ada pengaturan pengelolaan yang optimal. Banyak pihak sudah terlibat dalam pengelolaan mangrove bersama kelompok masyarakat di sekitarnya, namun membangun strategi mandiri membutuhkan waktu lama dan memerlukan pendampingan yang intensif, agar kelompok masyarakat tidak saja memperoleh akses pemanfaatan, namun juga memiliki kapasitas yang cukup untuk mandari, sehingga kegiatan dapat berlanjut.
Pengelolaan mangrove seharusnya tidak hanya pada mengrove atau tegakannya saja, tetapi subjeknya adalah manusia, sehingga dimensi pengelolaan mangrove lestari harus memasukkan parameter sosial dan ekonomi. Pengelolaan mangrove untuk pengembangan mata pencaharian seperti ekowisata dan pengolahan berbagai produk mangrove, memerlukan pengakuan kesehatan untuk keamanan pangan serta juga penting membangun rancangan usaha, agar dapat terjamin usaha yang berjangka panjang.
Diperlukan komitmen nasional untuk dapat mewujudkan pengelolaan mangrove lestari. Khusus untuk pengelolaan mangrove bersama masyarakat, niat baik pemerintah dalam memberikan akses pemanfaatan kepada kelompok masyarakat desa, perlu diikuti dengan penguatan kapasitas kelompok, baik kapasitas manejerial maupun teknis pengelolaan mangrove, agar dapat terwujud pengelolaan mangrove yang lestari.
Kerusakan mangrove dibanyak negara Asia, Afrika dan Amerika latin, secara umum disebabkan oleh adanya konversi fungsi ekosistem mangrove menjadi tambak atau perkebunan, pemanfaatan langsung tegakan mangrove yang tidak lastari, belum terbangunya tata kelola mangrove yang memadai. Dari sejumlah penelitian, diketahui bahwa mangrove (khususnya yang berasosiasi dengan gambut) memiliki stock carbon lebih tinggi dari pada kawasan hutan. Indonesia sebagai salah satu negara yang masih memiliki kawasan mangrove luas, perlu segera memperbaiki/membangun tata kelola yang jelas, khususnya kejelasan status dan fungsi lahan mangrove, sehingga ada kepastian pengelolaan ekosistem mangrove jangka panjang dan tidak dikonversi menjadi fungsi lainnya. Penanaman mangrove sudah banyak dilakukan, namun tidak selalu efektif. Perlu memperhatikan prinsip restorasi yang meliputi: kondisi biofisik yang sesuai dan kondisi sosial ekonomi untuk memungkinkan pemulihan mangrove.