Permintaan Pengajuan Konsep Proyek dan Proposal

PENDAHULUAN

TFCA (Tropical Forest Conservation Act) Kalimantan adalah program kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Amerika dalam rangka pengalihan hutang untuk kegiatan konservasi hutan, khususnya di Kalimantan berdasarkan perjanjian yang ditandatangani pada tanggal 29 September 2011, dengan The Nature Conservancy (TNC) dan Yayasan World Wide Fund for Nature-Indonesia (WWF Indonesia) sebagai Swap Partner. Tujuan umun dari TFCA Kalimantan adalah untuk melindungi keanekaragaman hayati yang penting, meningkatkan mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan, mengurangi emisi dan deforestasi dan degradasi hutan, dan melaksanakan program REDD+ di Indonesia.

TFCA Kalimantan akan memfasilitasi program konservasi, perlindungan, restorasi dan pemanfaatan lestari hutan tropis di Indonesia melalui kerja sama dengan Program Karbon Hutan Berau (PKHB) dan Program Heart of Borneo (HOB) di 4 Kabupaten target: Kabupaten Berau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Mahakam Hulu (Propinsi Kalimantan Timur), Kabupaten Kapuas Hulu (Propinsi Kalimantan Barat). Selain itu TFCA Kalimantan akan melakukan investasi strategis di wilayah Kalimantan lainnya.

Program ini dilaksanakan melalui penyaluran dana hibah oleh Yayasan KEHATI sebagai administrator kepada lembaga yang memenuhi syarat teknis dan administrasi, serta proposalnya mendapat persetujuan Dewan Pengawas (Oversight Committee) TFCA Kalimantan.

A. Fokus Program

Melanjutkan program pada siklus 1 dan 2 yang telah berjalan sejak 2014, saat ini TFCA Kalimantan membuka siklus 3 dengan mengundang para calon mitra yang memenuhi syarat untuk mengirimkan proposal. Selain tetap fokus mendukung PKHB dan HoB, pada siklus 3 TFCA Kalimantan membuka pendanaan terhadap sejumlah tema spesifik untuk mendukung investasi di luar kabupaten. Fokus program siklus 3 TFCA Kalimantan antara lain :


I. Program Karbon Hutan Berau (PKHB)

PKHB merupakan program kemitraan antara Pemerintah Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK), berbagai lembaga pemerintah lainnya, lembaga swadaya masyarakat serta lembaga donor untuk bersama-sama mengembangkan program percontohan pengurangan emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan serta peningkatan stok karbon melalui kegiatan pengelolaan hutan secara lestari, konservasi hutan, restorasi ekosistem, dan rehabilitasi hutan (REDD+). Untuk Siklus 3 Fokus Program PKHB akan meliputi:

1. Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) berbasis masyarakat
TFCA Kalimantan akan memberikan pendanaan untuk pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat dengan menggunakan pendekatan SIGAP-REDD+ di kampung-kampung yang berada di dalam dan sekitar kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Berau Barat dan dan kampung-kampung yang berada di sekitar kawasan mangrove tanpa menutup kemungkinan adanya usulan kampung lain yang diusulkan oleh calon penerima hibah. Dana TFCA Kalimantan juga akan diberikan kepada lembaga nirlaba yang akan mendukung peningkatan kapasitas lembaga-lembaga pengguna SIGAP REDD+ dalam menggunakan berbagai alat bantu dan metode pendampingan, dan memfasilitasi proses berbagi pembelajaran di antara mereka.Informasi lengkap aksi inspiratif untuk perubahan dalam REDD+ silahkan mengunduh informasi berikut.  
2. Pengembangan Usaha Produksi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berbasis masyarakat
TFCA Kalimantan akan mendukung pengembangan usaha produk HHBK yang selama ini dikembangkan oleh masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan dalam rangka pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Prioritas kegiatan untuk mendukung pengembangan HHBK ini difokuskan pada pembangunan kapasitas masyarakat dalam memproduksi HHBK, menambah nilai tambah dari HHBK, membangun sentra-sentra HHBK unggulan; serta membangun jaringan pasar berkelanjutan untuk memasarkan produk HHBK, baik di dalam dan luar Kabupaten Berau.
3. Konservasi habitat Orangutan
Ancaman terhadap orang utan di Kalimantan saat ini terus meningkat. Populasi Orangutan di Kalimantan Timur, diperkirakan mencapai 4,800 ekor dan lebih dari 78% habitatnya berada di luar kawasan konservasi, sisanya berada di kawasan konservasi. Namun ancaman terhadap populasi orang utan dari tahun ketahun terus meningkat. Ancaman itu datang dari konversi penggunaan lahan dan perubahan iklim, fragmentasi habitat orang utan, dan perburuan terhadap orang utan. Untuk siklus 3 dukungan pendanaan akan diberikan kepada konservasi habitat orang utan yang memadukan strategi antara lain :

  • Pemetaan dan karakterisasi populasi orang utan;
  • Integrasi hasil penelitian populasi dan habitat orang utan ke dalam perencanaan pembangunan kabupaten dan/atau provinsi dan pengembangan program terkait lainnya, misalnya pariwisata minat khusus pengamatan orangutan;
  • Memperkuat pengelolaan habitat orang utan dengan melibatkan para pemangku kepentingan kunci, seperti pemegang izin konsesi kehutanan, pengelola perkebunan kelapa sawit, dan masyarakat; dan/atau
  • Meningkatkan pendanaan bagi konservasi habitat orang utan, baik melalui mekanisme pendanaan pemerintah dan/atau pendanaan swasta (seperti RSPO/ISPO).

4. Pengelolaan Hutan Produksi Lestari
Pada siklus 3 ini, TFCA Kalimantan akan memberikan pendanaan untuk mendukung pelaksanaan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) oleh Ijin Usaha Produksi Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) di Berau dalam kerangka PKHB. Pendanaan akan diberikan untuk melaksanakan prioritas kegiatan sebagai berikut:

  1. Membangun kapasitas pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu di Hutan Alam (IUPHHK-HA), baik kapasitas manajemen dan pelaksana lapangan untuk melakukan praktik-praktik pembalakan kayu rendah emisi (reduced impact logging carbon atau RIL-C);
  2. Mengimplementasikan praktik terbaik tentang RIL-C untuk mendukung pengurangan emisi di Berau setidaknya di kawasan hutan produksi seluas +/- 1,000 – 2,000 hektar (1 RKT). Penelitian TNC menunjukan bahwa penerapan praktik-praktik RIL secara benar dapat menurunkan emisi karbon hingga 40% dibandingkan penerapan praktik-praktik pembalakan kayu secara konvensional;
  3. Melakukan penghitungan pengurangan emisi atas penerapan praktik-praktik RIL-C di kawasan tersebut di atas dengan menggunakan metodologi yang telah terdaftar di Verified Carbon Standard (VCS); dan
  4. Membangun kebijakan, baik ditingkat nasional dan provinsi, tentang penerapan praktik-praktik pembalakan kayu rendah emisi dalam kerangka mitigasi perubahan iklim (KLHK dan TNC saat ini sedang dalam proses untuk mengkaji kebijakan pemberian insentif bagi IUPHHK-HA yang menerapkan praktik-praktik RIL-C secara benar dan konsisten dimana pada akhirnya berhasil menurunkan emisi karbon hingga sekitar 40%).

5. Fokus Program Hibah Khusus
Dukungan Pendanaan akan diberikan kepada lembaga lokal yang selaras dan berkontribusi terhadap tercapainya tujuan, indikator tujuan, dampak dan indikator dampak dari TFCA Kalimantan sebagaimana tertera dalam Rencana Implementasi TFCA Kalimantan 2013 – 2017. Penjelasan rinci tentang Fokus Program PKHB dapat dilihat pada lampiran.


II. Heart of Borneo

Heart of Borneo merupakan inisiatif 3 negara yaitu Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia berdasarkan prinsip konservasi dan pembangunan berkelanjutan untuk hutan tropis dalam dataran tinggi di Borneo. Inisiatif Heart of Borneo bertujuan untuk menjaga dan memelihara kelestarian hutan terbaik Borneo yang masih tersisa, untuk kesejahteraan generasi sekarang dan masa datang. Kawasan ini meliputi kurang lebih 23 juta hektar hutan yang terhubung secara ekologis di tiga negara. DalamSiklus 3, Pendanaan akan diprioritaskan pada program yang meliputi:

  1. Dukungan upaya konservasi species kunci berupa badak Sumatera di Kutai Barat, Mahakam Ulu, Kapuas Hulu, Sintang dan Melawi (khusus untuk ketiga kabupaten HoB di Kalimantan Barat akan difokuskan pada assessment awal), Konservasi dan perlindungan habitat Pesut Mahakam di Landscape Hulu Mahakam (Sesayap dan Mahulu), Konservasi species dan habitat Bekantan di Taman Nasional Danau Sentarum (mengacu pada sistem Zonasi TNDS) dan di sekitar kawasan;
  2. Dukungan Pengelolaan kawasan konservasi berupa penguatan pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun, Kapuas Hulu berupa penyediaan air bersih dan listrik bagi masyarakat yang tinggal di dalam kawasan TNBK melalui pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan serta promosi jasa lingkungan seperti ekowisata berbasis masyarakat) dan cagar alam Luway Kersik di Kabupaten Kutai Barat;
  3. Penelitian species kunci sebagai rekomendasi pengelolaan konservasi species kunci (terkait populasi, habitat, dll). Pendanaan difokuskan untuk mendukung penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen, lembaga riset lainnya termasuk LSM pemerhati konservasi species pada spesies kunci satwa liar antara lain: orangutan (Pongo pygmaeous pygmaeous), gajah Asia (Elephanus maximus-Pigmy elephant), macan dahan (Neofelis nebulosadiardi), banteng Borneo (Bos javanicus lowi), beruang madu (Helarctos malayanus), bekantan (Nasalis larvatus), badak sumatera di Kalimantan, rangkong.

B. Program Investasi Strategis (Program di luar Kabupaten target)

    1. Pada Siklus 3, TFCA Kalimantan akan mendukung program investasi strategis diluar Kabupaten target dengan tema dan geografis sebagai berikut: Konservasi spesies yang dilindungi meliputi: Kegiatan konservasi habitat orang utan berbasis masyarakat di Taman Nasional Gunung Palung Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, konservasi bekantan dan pesut di sekitar kawasan ekosistem mangrove Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat dan Delta Mahakam Kalimantan Timur, serta konservasi Pigmy Elephant di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
    2. Pendanaan TFCA Kalimantan akan mendukung studi untuk mengungkap berbagai aksi kejahatan terhadap satwa liar khususnya di Kalimantan. Studi ancaman keberadaan Satwa Liar dari praktek-praktek kriminalitas (wildlife crimes) tidak terbatas pada — perdagangan, perburuan, dan perambahan kawasan yang menjadi habitat satwa liar dilindungi tersebut.
    3. Pengelolaan hutan dan sumberdaya alam bersama masyarakat (PHBM) di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur termasuk pengelolaan Karst.

Klik disini untuk unduh informasi kebijakan dan prosedur penyaluran hibah siklus 3