IMG_2552Nama lengkapnya, Dingo Markus, sehari-hari dipanggil Dingo oleh masyarakat Desa Tanjung, Kec Mentebah, kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Perawakan dan pembawaan sangat sederhana. Demikian juga tindak-tanduknya. Sebagai kepala desa yang membawahi  beberapa dusun, Dingo telah mendedikasikan hidup bagi warganya dalam dua periode kepemimpinannya, bahkan jauh sebelum itu.

Rumahnya tak semewah perangkat desa umumnya, luasnya tak sampai 70 meter, tak lebih luas dari rumah sebelah yang berjarak hanya sebatang kayu rebah, demikan masyarakat Desa tanjung menyebut ukuran jarak antar rumah. Lokasinya terletak di ujung desa yang berbatasan dengan sungai. Di rumah mungilnya, ia tinggal bersama istri dan empat orang anaknya yang masih kecil. “Ini yang bungsu usianya 5 tahun, jawabnya seraya membelai rabut gadis mungil yang tidak mau lepas dari pangkuannya saat kami berbincang-bincang.

Pendidikannya hanya sampai SMP, namun sekolah kehidupan telah membentuk dirinya menjadi figur yang tidak mudah putus asa dan ringan tangan menolong sesama. Lulus SMP tahun 1991, ia aktif terlibat dalam banyak kegiatan kemasyarakatan. Tahun 1993, Dingo bekerja sebagai tukang bangunan yang akhirnya membawanya menetap di Desa Tanjung. Disinilah ia mengenal alam serta masyarakatnya.

“Masyarakat disini sejak dulu hidup bergantung dengan hutan.” Lanjutnya kepada TFCA Kalimantan. Itulah sekelumit alasan pria kelahiran Kensuray, 1976 ini, berjuang gigih untuk mendapatkan hak pengelolaan hutan di daerahnya. Ia tak ingin masyarakat desa hidup prihatin dan hutan hilang tanpa sempat dinikmati generasi penerus. Pasalnya kehidupan suku asli Dayak di Desa Tanjung tak bisa dipisahkan dari alam sekitar. Menurutnya, usulan pengelolaan

Hutan Desa di Desa Tanjung dilakukan dengan beberapa alasan, diantaranya; perlindungan sumber air, perlindungan penyangga kehidupan, dan pemanfaatan hasil hutan secara berkelanjutan. Menyoroti tujuan tersebut, diperlukan aspek pengelolaan dan perlindungan agar hutan terjaga dan lestari. Salah satunya dengan pengelolaan Hutan Desa.

Dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor: P. 89/Menhut-II/Tahun 2014 tentang Hutan Desa, disebutkan hutan desa adalah hutan negara yang belum dibebani izin/hak Yang dikelola oleh desa dan  dimaksudkan untuk memberikan akses kepada desa melalui lembaga desa dalam mengelola sumberdaya hutan secara lestari serta bertujuan meningkatkan kesejahteraan desa secara berkelanjutan.

Inisiatif pengusulan Hutan Desa di Desa Tanjung sebenarnya telah dimulai sejak 2010 oleh perangkat dan masyarakat di desa Tanjung. “Waktu itu kami belum paham mana hutan lindung mana hutan produksi.” Kala itu kami mengusulkan agar seluruh kawasan area Desa Tanjung seluas 34.932,7 ha dimasukkan dalam usulan. Namun hanya 2.520 ha yang disetujui, mengingat sisa luas lahan yang kami ajukan merupakan hutan Negara dengan fungsi hutan produksi yang telah diberikan ijin pemanfaatannya kepada  PT Benua Indah namun  saat ini sudah tidak ada lagi kegiatan operasional di lapangan” jelasnya.

Tahun 2011 Yayasan People Resource & Conservation Foundation Indonesia (Yayasan PRCF Indonesia)  dan World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia memfasilitasi proses pengajuan Hutan Desa sesuai dengan Peraturan Mentri Kehutanan dengan luas awal yang direncanakan sekitar 11.000 ha. Tahun 2012, ada kegiatan sosialisasi dan fasilitasi penyusunan usulan Hutan Desa dari Balai Pengelolaan Derah Aliran Sungai (BPDAS) Kapuas dan Kementrian Kehutanan RI. Fasilitasi dari lembaga pendampingan PRCF Indonesia masih tetap berlanjut.

Selanjutnya tahun 2013, setelah mendapatkan rekomendasi dari Bupati Kapuas Hulu usulan tersebut diteruskan ke Menteri Kehutanan. Tim dari pusat datang melakukan verifikasi didampingi oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dan BPDAS Kapuas untuk mendapatkan Penetapan Areal Kerja.

Januari 2014, Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 66/Menhut-II/2014, tanggal 21 Januari 2014 menjadi dasar hukum bagi Penetapan Areal Kerja Hutan di Desa Tanjung dengan luas 2.520 ha. Berliku jalan yang dilalui untuk mendapatkan status Hutan Desa. Sebagai Kades, Dingo telah mengambil bagian penting dalam penyelesaian masalah administratial. Sebelum usulan disetujui, ia kerap kali mengunjungi warga untuk memberikan pemahaman baik secara personal maupun kelompok bersama lembaga yang mendampingi. Tak terhitung berapa banyak waktu, tenaga dan materi yang ia keluarkan.

“Pa Kades ini antusias dan tidak kenal pamrih memperjuangkan sesuatu, Dia tidak perduli hujan panas, siang malam, selama itu tugasnya apapun harus lewati, hadapi.”ungkap Tajok selaku koordinator desa dari Yayasan PRCF Indonesia. Pukul 6 pagi berangkat dari rumah dan kembali lagi ke rumah pkl 22.00 wib hampir setiap harinya menggunakan sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar 40 km dari desanya ke Putussibau. Ia bolak balik mengurusi administratial ke kantor kecamatan, kantor bupati, dan bahkan lokasi lain untuk sekedar mendapatkan respon dari pejabat di atasnya atas permintaan/usul yang diajukan.

Penolakan dan penundaan bukan hal asing baginya, demikian juga revisi atau perbaikan sebagai syarat kelengkapan dokumen untuk hasil yang sesuai harapan. Rasa ingin tahu yang besar menjadikan rintangan itu sebagai pembelajaran untuk memahami banyak hal. Seperti dalam pengurusan listrik masuk desa, usulan hutan desa, pembentukan lembaga desa, dll.

Listrik masuk desa dan Hutan Desa baru bagian kecil target yang tercapai sebelum berakhir masa jabatan. Sedangkan, perbaikan jalan masuk desa, masih menunggu hasil yang dengan penuh optimisme diyakininya akan segera terwujud. Demikian juga dengan target pembentukan BUMDes, implementasi RPJMdes dan pengelolaan ekowisata.

Desa Tanjung Nan IndahDesa Tanjung Desa Tanjung, tercatat dalam akte Desa tahun 1986. Jumlah Penduduknya kini mencapai 1032 orang atau sekitar 260 KK. “Proses panjang harus dilalui sebelum tercatat dalam akta dan dimulai sejak 1975”, Jelas Hatta salah seorang mantan Kepala Desa Tanjung periode 2004-2009.

Desa Tanjung sendiri memiliki potensi yang cukup banyak seperti potensi ekowisata dengan kondisi alam yang dikelilingi oleh bukit dan sangat dekat dengan desa, selain panorama pegunungan, Desa Tanjung juga memiliki potensi air terjun yang cukup baik, terpelihara dan memiliki tinggi puluhan meter dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh.

“Desa ini dulu penuh bunga-bunga. Ada bermacam jenis anggrek dan bunga-bungaan lain seperti Alamanda,” Ujarnya seraya mencoba menjelaskan jenis bunga yang dimaksud. Potensi budaya juga tak kalah menarik, ini dapat dilihat dari peninggalan yang terdapat di sekitar Desa Tanjung, antara lain patung, perlengkapan keramik dan tiang bekas rumah Panjang suku Dayak Suyu.

Hampir seluruh masyarakatnya adalah suku dayak. Mereka bekerja sebagai Petani karet. Sehari-hari kehidupan mereka sangat bergantung pada tiga unsur yakni: air, tanah dan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semisal, air untuk konsumsi sehari-hari, tanaman obat untuk pengobatan tradisional, dan bahkan gaharu yang menjadi komoditi bernilai tinggi.

Rekam jejak desa inipun sangat bagus, sedari dulu telah beberapa kali menjuarai beberapa lomba terkait keindahan desa dan aktivitas masyarakatnya. Semisal tahun 2007 juara Pertama Lomba P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita Keluarga Sehat Sejahtera) dengan kriteria penilaian terkait kebersihan lingkungan, sampai dengan pemanfaatan tanaman obat, Tahun 1995, meraih juara ke-dua lomba kebersihan se-Kabupaten. Tahun 1989, menjuarai lomba Penataan Lingkungan Desa. Disamping itu desa ini juga pernah menjuarai lomba KB, dan sederet penghargaan lainnya. Tahun ini, Desa ini masuk dalam daftar nominasi peserta lomba Desa Peduli Hutan tingkat propinsi Kalbar.

Yayasan PRCF Indonesia (People Resource and Conservation Foundation) Sebagai Pendamping

Yayasan PRCF Indonesia sebagai lembaga dampingan di desa ini telah menjalankan fungsi dan peranannya secara optimal. Intervensi dan bantuan bagi masyarkat di desa Tanjung dimulai dengan melakukan pendampingan dalam pengajuan penyusunan Hutan Desa, dimana masyarakat sekitar diberikan pemahaman.

Disamping itu PRCF juga sudah melakukan beberapa kegitan yang bertujuan untuk membantu peningkatan kapasitas masyarakat maupun kegiatan yang berguna untuk menggerakkan ekonomi masyarakat di Desa Tanjung. Namun kurun waktu 2 tahun ke belakang, fungsi PRCF lebih intens dalam hal pendampingan pengajuan usul pengelolaan hutan desa, penyusunan rencana kerja selama 35 tahun, yang kemudian dibagi menjadi 10 tahun, 5 tahun, 1 tahun sampai dengan per bulan. Tujuannya agar masyarakat desa memiliki arahan yang jelas dalam implementasi di lapangan.

Disamping melakukan pendampingan tersebut di atas, PRCF juga membuat program kebon bibit hutan desa. “Ada sekitar 50 ha dan ada 12 ribu bibit disesuaikan dengan luas.”ungkap Tajok selaku Koordinator desa dari PRCF. Bibit diperoleh dari Desa Tanjung dengan asumsi tanaman akan dapat dengan mudah tumbuh. Tanaman dibagi menjadi 3 jenis yakni Jangka panjang, semisal durian, karet, jangka menengah seperti gaharu, coklat dan holtikultura bagi kaum ibu.

“Ibu-ibu berkebun, sedangkan bapak-bapak membuat pupuknya.” Utasnya. Ditambahkan Tajok, pupuk yang akan dibuat adalah pupuk organik sehingga kesuburan tanah dan lahan di desa Tanjung tetap terjaga dan tidak terkontaminasi bahan kimia. “Jadi sambil menaman, buat pupuknya juga.” Untuk itu, PRCF akan kembali membantu memberikan pelatihan pembuatan pupuk.

Di masa hari-hari terakhir jabatannya yang akan berakhir pada 28 Agustus 2015, Dingo diperhadapkan pada satu dilematis antara melanjutkan perjuangannya atau berhenti. Masyarakat masih sangat berharap dirinya maju melanjutkan cita-cita desa Tanjung. Demikian juga dengan keluarganya. Namun ia tidak bisa menyangkali hati nurani yang ingin mendedikasikan hidup bagi keluarga yang selama ini dianggapnya terabaikan. Dan ini masih menjadi pergolakan dalam batin yang belum berakhir hingga kini.

Menilik segala upaya yang telah dilakukan Dingo bagi desanya, dapat disimpulkan bahwa nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Kesederhanaan hidup yang dijalani tidak semerta membuat namanya menjadi “sederhana,” sebaliknya namanya harum di Desa Tanjung. Ini dibuktikan dari kinerjanya gigih, tekun dan ulet untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Saat ini pemerintah telah membuka akses masyarakat untuk dapat mengelola hutan melalui skema hutan desa, dan para pihak telah memberikan pendampingan, namun upaya ini memiliki tantangan besar dan pekerjaan rumah yang panjang. Semoga saja semua anggota lembaga pengelola hutan Desa yang dinamai “Bukit Belang” memiliki semangat seperti Dingo untuk mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. (Ira)